July142014

Apa Bhinneka Tunggal Ika itu masih ada?

Beberapa hari belakangan ini saya sulit tidur. Bukan karena begadang ngerampung tugas atau kerjaan, atau juga galau percintaan, tapi saya mikirin hal ini terus menerus. Sampai saya hampir kehilangan rasa kemanusiaan saya karena hal ini.

Apa Bhinneka Tunggal Ika itu masih ada? Toleransi masih ada?

Beberapa bulan yang lalu, saya diceritakan oleh seorang dosen yang merupakan mantan anggota himpunan tahun 80an dan telah menjadi saksi bisu dalam kehidupan keorganisasian kampus selama 20 tahun lebih. Dia curhat kepada saya tentang pemilihan ketua himpunan yang dirasa kurang demokratis. Bukannya bermaksud untuk menyinggung suatu agama, namun pemilihan ketua himpunan harus didasari dengan kriteria pemimpin yang beragama “bersih”. Karena pemimpin yang soleh akan mengarahkan anggotanya kepada hal kebaikan. Sehingga, mahasiswa yang beragama lain tidak akan dapat kesempatan untuk menjabat sebagai ketua himpunan. Dan sistem ini sudah berlangsung selama 20 tahun lebih.

Sejujurnya, saya geram dan ingin langsung bertanya kepada panitianya.  Saya benar-benar tidak bisa menolerir perbuatan yang nepotisme, hanya seseorang beragama diklaim paling benar, maka orang yang tidak seagama kehilangan haknya untuk menjadi pemimpin. Ini yang namanya universitas dengan track record baik dibidang pendidikan tapi buruk dibidang keorganisasiannya?

Saya pun menjadi didiskriminasi di lingkungan saya tinggal karena perbedaan pandangan hidup. Saya kehilangan banyak teman setelah saya jujur tentang prinsip hidup saya. Saya direndahkan karena saya terlalu pemikir bebas, sehingga mereka memandang saya perempuan yang tanpa batas alias menyamakan diri saya dengan seorang pelacur yang tak beragama. Apakah berdiskusi dan berpikiran kritis terhadap norma/kebijakan sesuatu adalah suatu dosa besar? Bagaimana dengan orang-orang yang beragama, yang mengganggap Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tapi membenarkan kekerasan, sikap anarki, dan perampasan hak setiap orang yang berbeda dari dirinya? 

Orang-orang berkoar-koar “cinta tanah air” tapi ketika mereka berbicara tentang agama, ras, dan suku, mereka akan mudahnya melupakan koar-koar nasionalisme itu tadi. Mereka akan saling membenarkan diri paling benar, dan sibuk menjudge siapa yang paling salah dan pantas dimaki-maki dan dikucilkan, bahkan dibunuh.

Seperti pemilu kali ini yang sebenarnya membuat saya cemas. Dari masa pra kampanye, sampai masa tenang, simpatisan pendukung capres dari kedua belah pihak tidak pernah berhenti saling menyalahkan, saling menghina, saling menyumpah serapah.

Jujur, saya takut. Saya takut apa yang saya baca tentang salah satu rencana kubu capres menjadi kenyataan. Ini seperti ketika saya menaiki wahana halilintar di Dufan untuk pertama kali. Sebelum saya diperbolehkan naik, sepupu saya menakuti-nakuti kalau sehabis naik halilintar bakalan muntah-muntah, lalu saya diajak melihat wahananya langsung dan banyak orang-orang yang berteriak histeris. Ketika pada akhirnya saya menaiki wahana tersebut, ada rasa takut dan was-was, bagaimana kalau nanti saya terjatuh dan mati?

Sama seperti hal pengalaman diatas. Ini pengalaman pertama saya ikut pemilu. Pada awalnya saya antusias sekali, hidup di lingkungan yang terbuka dengan topik politik dan hukum (orang tua saya adalah dosen hukum) membuat saya tertarik untuk mengikuti berita pemilu. Namun, semakin saya mengikuti, semakin saya kehilangan semangat dan optimis kalau Indonesia akan berada ditangan yang tepat.

Bagaimana kedua simpatisan capres saling melempar kabar-kabar buruk, bagaimana kedua capres memberikan tanggapannya terhadap itu, makin membuat saya hopeless. Really? Jadi begini pemilu kali ini? Gampang banget ya untuk menyebar fitnah, lalu membuat kumpulan orang-orang makin percaya berita fitnahan itu.

Bukan hanya hubungan simpatisan saja yang runyam, tapi semua hubungan kekerabatan, keluarga hancur cuma karena tidak bisa menoleransi “perbedaan” pendapat dan pilihan.

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika

January162014

Comforting Sounds

Yep. Comforting Sounds - Mew. Like, what Jonas said, it’s about losing the safety of childhood, and not wanting to grow up.

But here’s my interpretation. This song is about vulnerability.

"I don’t feel alright
In spite of these comforting sounds you make
I don’t feel alright
Because you make promises that you break”

He starts to wary about you. It’s all about arguing, crying. He doesn’t know, if you’re sincere or not, since you haven’t always kept your words.

"Into your house, why don’t we share our solitude?
Nothing is pure anymore but solitude.”

When in solitude, you and him are connected to each other. It makes he realized, all he wants is just to be alone with someone else, with you.

"It’s hard to make sense, feels as if I’m sensing you through a lens."

But, again, he doesn’t understand what just happened. He feels you haven’t completely opened up to him, like there’s a filter between your true self and what you show him.

"If someone else comes, I’d just sit here listening to the drums."

if the bond between you and him is to be interrupted, permanently or momentarily, he’d go back to passively listening to the world, making none of his own noise.

"Previously I never called it solitude."

Even he gets in loneliness again, he does know that is the best thing to do for his sake.

"And probably you know all the dirty shows I’ve put on.
Blunted and exhausted like anyone.
Honestly I tried to avoid it.
Honestly.”

He realized you were always there when he became so numb. When he’s hurting you, he’s hurting his self. He knew, you were so much hurt that he couldn’t bear. But unfortunately, he’s losing control.

"Back when we were kids, we would always know when to stop.
And now all the good kids are messing up.
Nobody has gained or accomplished anything.”

He used to know when he should stop being fake and vulnerable. But he has been through a tough time. He’s messed up to deal with his pasts. That costs his social skills blunted. And that isolation he imposes on himself from others does not do any good.

To me, it’s a song about someone in limbo, emotional limbo, talking about his mistakes, talking maybe as if he is judging himself and the whole situation. But, it is only through the process of loss that they discover what they had to begin with.

And the music makes me feel nostalgic. It’s flawless from start to finish. All the voices, the instrumental parts… It’s sad in good way. I teared up for the first time I heard this.

So, that’s my interpretation. I know everybody has their own thoughts. But hope you have a good time while listen this song like mine.

November142013

Sikap

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi

Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

nafsu-emosi-keinginan-apapun yang ada untuk kita pilih
adalah berawal dari kebijaksanaan kita menyikapi sikap kita sendiri.
bukan orang lain dan bukan siapa siapa

5AM
“This is my simple religion. There is no need for temples;
no need for complicated philosophy. Our own brain,
our own heart is our temple; the philosophy is kindness.” Kebaikan dan Kasih Sayang

Teringat kembali akan kalimat indah Kahlil Gibran:
"keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya"

Richard Gere pernah bertanya pada pemimpin spiritual Tibet tentang
agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan
senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab:

Agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
4AM

dialog diri

  • Murid: Diri membisiki kita jawaban, tapi tidak juga kita dengarkan. Tampaknya kita lebih "nyaman" untuk mendapatkan jawaban dari luar ketimbang berdialog dengan diri. Mengapa bisa demikian?
  • Guru: Ada 2 tipe orang ketika bertanya, Mencari Kebenaran dan mencari pembenaran
  • Ketika mereka dibisiki jawaban, apakah mereka mencari kebenaran akan bisikan itu, atau berusaha membenarkan diri atas bisikan itu
  • Contoh kasusnya sangat banyak, namun siapapun yg berdialog dengan diri sendiri akan tetap berinteraksi dgn orang lain
4AM

Ketidakmungkinan hanya masalah waktu. Yang tidak mungkin di masa lalu, menjadi harapan dimasa kini, dan akan menjadi kenyataan di masa depan. Maka mulailah sekarang dari apa yang paling mungkin dapat Anda lakukan, walau sekecil apapun.

4AM

Tujuan hidup

sebenarnya agak sedih bagi saya melihat tujuan hidup manusia saat ini (mungkin termasuk saya), dari lahir sampai sekarang dicekoki oleh definisi tujuan hidup = orang sukses ( sukses = banyak uang ) ato mapan dalam hal materi..

Membeli kebahagiaan dengan uang,membayar hari-hari yang begitu menyiksa dikantor, melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan, hanya untuk uang, hidup sudah menjadi budak uang, mau berenti dari siklus ini,tapi ga tau gimana caranya..

Ga heran hidup penuh ketakutan segala sesuatu menjadi terjebak oleh “uang” takut ini takut itu,seakan-akan pilihan hidup harus dijalani dengan uang…

kehidupan rutin yg dilakukan tak ubahnya seperti robot,ironisnya uang yg dikumpulkan dengan menyiksa tidak dibelanjakan untuk benar-benar membahagiakan diri, melainkan hanya menghias diri, mendapatkan kebahagian melalui pujian / pengakuan / validasi dari orang lain dengan berbagai macam barang mewah. entah tak ada waktu,tak sempat,tersesat, atau lupa dari tujuan awal..

apakah hidup seperti itu?

2AM

Hidup adalah pilihan

Hidup adalah pilihan, tapi kita tidak bebas memilih konsekuensinya.

Tertawa adalah mengambil resiko kelihatan bodoh,
Menangis adalah mengambil resiko kelihatan sentimental,
Mengulurkan tangan kepada orang lain adalah mengambil resiko ikut terlibat,
Memperlihatkan perasaan adalah mengambil resiko ditolak,
Memaparkan impian Anda di hadapan orang banyak adalah mengambil resiko diejek,
Mencintai adalah mengambil resiko mendapat balasan dicintai,
Maju menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar adalah mengambil resiko gagal,


Tetapi resiko harus diambil karena bahaya yang terbesar dalam kehidupan adalah tidak berani mengambil resiko.
Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak melakukan apapun, tidak punya apa-apa dan bukan apa-apa.
Mungkin dia menghindari penderitaan dan kesedihan, tetapi dia tidak bisa belajar, merasakan, berubah, tumbuh atau mencintai.
Karena dirantai oleh kepastiannya, maka dia adalah budak.


Hanya Orang yang berani mengambil resiko sajalah yang bisa disebut sebagai Orang yang Merdeka

Jadi, hidup adalah pilihan..

November92013

Solitude

Saturday, afternoon.

I’m in the middle of trip to find a solitude. A solitude..

I don’t know but it sounds so pathetic. I’ve been looking for some place but it never fills me. I mean, the peace. So here I am. As the train haven’t come, sitting alone in famous coffee cafe, with two cold cappuccinos that I haven’t drank yet, deciding where I should go. or have to go.

I drank my first coffee, suddenly a wild thought just popped out in my head.

Why I’m run away?

To be alone in somewhere else, or find a new place to conquer all of problems is not the answer.

Then another wild thoughts appeared.

Solitude is not the absence of love. It’s a complement. Solitude is not the absence of company, but the moment when our soul is free to speak to us and help us decide what to do with our life.

Therefore, blessed are those who do not fear solitude, who are not afraid of their own company, who are not always desperately looking for something to do, something to amuse themselves with, something to judge.

If you are never alone, you cannot know yourself.
And if you do not know yourself, you will begin to fear the void.

Ah, I’ve been reading Paulo Coelho - Manuscript Found in Accra.

So, it means I have in solitude all time. I thought I was being punished for what I’ve done when no one left in home and left me all alone. I searched high and low for traces of where people could have gone. I pleaded and prayed for people to return, but my prayers remained unanswered, just the echoes of my tears hitting the floors of the house where I use to call home. and I’m running away to every places. To find a peace, but every time I’m running away, makes me feel empty. and I feel so dreadful.

I drank my last coffee, packed all of my stuffs, and go where I belong to be..

As the train’s bringing me back to home, yes, life… here I come..

May202013
“Yang sekarang tangannya kau genggam erat, tiba waktunya nanti suatu saat, harus kau lepas dengan berat. Tak ada yang selamanya itu mengikat.” @FHMY_
← Older entries Page 1 of 6